Hubungan Sifat Sabar dan Dermawan

Meta Data Kajian

Catatan Kajian

QS. An:Nisa' 4:28

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Artinya: "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah."

Ibnul Qayyim membawakan firman Allah ﷻ dalam

QS. Al:Munafiqun 63:9

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

Empat pagar sabar di tengah kenikmatan

  1. Karena dalam hidup hanya ada dua kemungkinan yang dihadapi;
    1. Sesuai dengan keinginan
    2. Tidak sesuai dengan keinginan
  2. Poin 1 lebih diperlukan untuk sabar, karena
    1. Agar kita tidak ketergantungan (hati), terkecoh, tidak tenggelam dalam euforia
    2. Agar kita tidak berlebihan disaat kita mampu untuk itu. Karena sesuatu yang baik jika berlebihan akan menjadi buruk / penyakit. Misal dalam makan / scrolling dan screentime. Hal yang bermanfaat akan bermanfaat jika sesuai dosis.
    3. Agar kita tidak lupa di setiap nikmat ada hak Allah ﷻ . Manusia sering lupa dalam harta nya ada zakat,
    4. Agar kita tidak digunakan kedalam hal yang haram. Jangan lepaskan nafsu kita untuk melakukan semua yang dia inginkan. Tidak ada yang bisa lari kecuali orang siddiqin (yang membenarkan firman Allah ﷻ , level di bawah para Nabi). Manusia bisa sabar (baik itu muslim/kafir) ketika terkena musibah tetapi hanya orang siddiqin yang mampu bersabar dalam kenikmatan.

Keterangan para sahabat

  1. Abdurrahman bin Auf (satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga) memberi keterangan "Kami diuji dengan musibah dan hal yang tidak nyaman mak akami berhasil menanggapinya dengan sabar, dan kami diuji dengan kenyamanan dan kesenangan dan kami tidak bersabar". Merupakan bentuk ke-tawadhu'an beliau yang menunjukkan sabar dalam kenikmatan sangat sulit.

Poin ke-2

  1. Ibnul Qayyim meneruskan. Adapun yang kedua adalah hal yang menyelisihi hawa nafsu kita; yaitu
    1. Berkaitan dengan pilihan seorang hamba melakukan / tidak melakukan kemaksiatan / ketaatan
    2. Awalnya tidak berkaitan dengan pilihan; misalnya ketika mendapat musibah
    3. Awalnya merupakan pilihan tetapi berikutnya bukan lagi pilihan
  2. Poin 1;
    1. Terkait ketaatan; nafsu pada dasarnya punya tabiat tidak suka ibadah seperti shalat (suka lalai dinanti-nantikan / ntar dulu), bayar zakat. Penuntut ilmu harus punya tidak yang kuat dan jangan tamak. Thalhah bin Ubaidillah mengatakan kita merasakan sifat pelit yang dirasakan ketika punya harta.
      1. Di masa Imam Ahmad, disepakati tidak ada yang mendapati orang shaleh dan pelit. Jikapun ada, Yahya bin Mu'ad meyampaikan akan ada respect kepada orang dermawan walaupun orang itu fasik sedangkan sulit menghilangkan rasa benci ketika orang shaleh pelit.
      2. Ali bin Abi Thalib menjelaskan, sifat pelit membawa ke keburukan. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib melewati bak sampah lalu ia berkata "inilah yang dipeliti orang pelit".
      3. Sifat pelit mengundang keburukan bagi yang dekat dengan pelakunya.
      4. Harta akan bermanfaat jika digunakan dalam kebaikan.
      5. Penuntut ilmu tidak boleh pelit agar bisa membagikan ilmunya dan mampu mengangkat citra Islam
      6. Tidak pelit adalah perwujudan penuntut ilmu dalam tauhid kepada Allah ﷻ , bahwa Allah ﷻ Maha Pemberi Rezeki, bahwa Allah ﷻ berfirman

QS. Saba' 34:39

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Artinya: "Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik."

1. Sabar dalam Menghadapi Kesenangan

Sabar bukan hanya saat ditimpa musibah, tetapi justru lebih berat saat mendapatkan apa yang kita sukai agar tidak lalai dan berlebihan.

2. Melawan Tabiat Nafsu yang Pelit

Sifat dermawan adalah bentuk kesabaran dalam melawan nafsu yang secara alami cenderung pelit dan tamak terhadap harta.

3. Bahaya Sifat Pelit bagi Hati dan Agama

Kedermawanan adalah ciri kesalehan, sedangkan sifat pelit merusak kewibawaan dan mengeraskan hati.

4. Kedermawanan sebagai Implementasi Tauhid

Memberi adalah bukti keyakinan bahwa Allah adalah Sang Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) yang akan mengganti setiap harta yang keluar.

5. Skala Prioritas dalam Memberi

Dermawan yang paling utama dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga.


Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari:

  1. Latihan "Rem" Kesenangan: Belajar membatasi hal-hal yang disukai meskipun halal (seperti makanan atau waktu layar/screen time) agar tidak menjadi candu yang melalaikan ibadah.

  2. Lawan Keraguan saat Bersedekah: Jika muncul rasa sayang pada uang saat ingin memberi, sadari bahwa itu adalah bisikan nafsu. Langsung eksekusi pemberian tersebut tanpa banyak berpikir.

  3. Prioritaskan Nafkah Keluarga dengan Bahagia: Berikan nafkah kepada istri dan anak dengan wajah yang ceria dan lapang hati, bukan sebagai beban, karena itu adalah sedekah yang paling besar pahalanya.

  4. Menjaga Citra Penuntut Ilmu: Jika kita mengaku belajar agama (hijrah), tunjukkan dengan tangan yang ringan membantu sesama (royal/dermawan), bukan justru menjadi benalu atau pelit.

  5. Berbagi Ilmu & Keahlian: Jangan pelit membagikan resep, tips bisnis, atau ilmu kepada orang lain. Yakinlah bahwa rezeki kita sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar hanya karena orang lain tahu rahasia sukses kita.