Hubungan Sifat Sabar dan Dermawan
Meta Data Kajian
- Pemateri: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc
- Materi: Tadzkiratus Sami Wal Mutakallim
- Sub Materi: Sabar
- Tanggal: 2026-01-17T00:00:00.000+07:00
- Link Kajian: https://www.youtube.com/watch?v=ibVaMsHAgSs
Catatan Kajian
- Maksimalkan akhir rajab. Setiap amalan tergantung akhirnya.
- Setelah bulan Sya'ban (bulan yang dilalaikan) kita memasuki rantai bulan-bulan istimewa. Waktunya untuk terus menjaga ritme dan konsistensi.
- Hal ini perlu terus diingatkan berulang, karena manusia bersifat lemah (moody).
- Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang memaksimalkan waktu yang masih tersisa, maka kesalahannya yang lalu pasti terampuni, dan barangsiapa yang melalaikan waktu yang tersisa, maka ia akan disiksa karena kesalahan yang lalu dan yang tersisa.”** **(HR. Thabrani Fil Awsath dan dihasankan oleh Albani)
Ibnul Qayyim membawakan firman Allah ﷻ dalam
- Al-Imam As-Sa'di mejelaskan, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berdzikir karena itulah kebaikan di dunia dan mengingatkan kita untuk berdzikir kepada Allah ﷻ . Cinta kepada harta dan anak-anak adalah mayoritas kebanyakan jiwa yang akhirnya mengedepankan cinta itu daripada cinta kepada Allah ﷻ .
- Sehingga masalahnya adalah bukan punya banyak harta atau anak yang lucu-lucu, melainkan ketika hal itu bisa membuat kita lalai mengingat Allah ﷻ dan menunaikan hak-hak Allah ﷻ .
Poin ke-2
- Ibnul Qayyim meneruskan. Adapun yang kedua adalah hal yang menyelisihi hawa nafsu kita; yaitu
- Berkaitan dengan pilihan seorang hamba melakukan / tidak melakukan kemaksiatan / ketaatan
- Awalnya tidak berkaitan dengan pilihan; misalnya ketika mendapat musibah
- Awalnya merupakan pilihan tetapi berikutnya bukan lagi pilihan
- Poin 1;
- Terkait ketaatan; nafsu pada dasarnya punya tabiat tidak suka ibadah seperti shalat (suka lalai dinanti-nantikan / ntar dulu), bayar zakat. Penuntut ilmu harus punya tidak yang kuat dan jangan tamak. Thalhah bin Ubaidillah mengatakan kita merasakan sifat pelit yang dirasakan ketika punya harta.
- Di masa Imam Ahmad, disepakati tidak ada yang mendapati orang shaleh dan pelit. Jikapun ada, Yahya bin Mu'ad meyampaikan akan ada respect kepada orang dermawan walaupun orang itu fasik sedangkan sulit menghilangkan rasa benci ketika orang shaleh pelit.
- Ali bin Abi Thalib menjelaskan, sifat pelit membawa ke keburukan. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib melewati bak sampah lalu ia berkata "inilah yang dipeliti orang pelit".
- Sifat pelit mengundang keburukan bagi yang dekat dengan pelakunya.
- Harta akan bermanfaat jika digunakan dalam kebaikan.
- Penuntut ilmu tidak boleh pelit agar bisa membagikan ilmunya dan mampu mengangkat citra Islam
- Tidak pelit adalah perwujudan penuntut ilmu dalam tauhid kepada Allah ﷻ , bahwa Allah ﷻ Maha Pemberi Rezeki, bahwa Allah ﷻ berfirman
- Terkait ketaatan; nafsu pada dasarnya punya tabiat tidak suka ibadah seperti shalat (suka lalai dinanti-nantikan / ntar dulu), bayar zakat. Penuntut ilmu harus punya tidak yang kuat dan jangan tamak. Thalhah bin Ubaidillah mengatakan kita merasakan sifat pelit yang dirasakan ketika punya harta.
1. Sabar dalam Menghadapi Kesenangan
Sabar bukan hanya saat ditimpa musibah, tetapi justru lebih berat saat mendapatkan apa yang kita sukai agar tidak lalai dan berlebihan.
-
Referensi: * Perkataan Abdurrahman bin Auf: "Kami diuji dengan kesulitan lalu kami bisa bersabar, dan kami diuji dengan kesenangan/kemudahan lalu kami tidak bisa bersabar".
- Surah Al-Munafiqun ayat 9: Larangan agar harta dan anak tidak melalaikan dari zikrullah.
2. Melawan Tabiat Nafsu yang Pelit
Sifat dermawan adalah bentuk kesabaran dalam melawan nafsu yang secara alami cenderung pelit dan tamak terhadap harta.
-
Referensi: * Perkataan Thalha bin Ubaidillah: "Kami merasakan apa yang dirasakan orang pelit (berat memberi), namun kami berjuang untuk sabar (natasabar) untuk tetap memberi".
-
Surah At-Takathur: Nafsu memperbanyak harta baru akan berhenti saat masuk kubur.
-
Hadits Nabi SAW: Anak Adam tidak akan puas meski diberi satu lembah emas.
-
3. Bahaya Sifat Pelit bagi Hati dan Agama
Kedermawanan adalah ciri kesalehan, sedangkan sifat pelit merusak kewibawaan dan mengeraskan hati.
-
Referensi: * Keterangan Imam Ahmad & Yahya bin Ma'in: Tidak dikenal ada orang saleh yang memiliki sifat pelit.
-
Perkataan Yahya bin Muadz: Hati secara alami akan cinta pada orang dermawan meski dia pendosa, dan benci pada orang pelit meski dia ahli ibadah.
-
Bisyir bin Al-Harith: Melihat orang pelit bisa mengeraskan hati.
-
4. Kedermawanan sebagai Implementasi Tauhid
Memberi adalah bukti keyakinan bahwa Allah adalah Sang Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) yang akan mengganti setiap harta yang keluar.
-
Referensi: * Surah Saba ayat 39: Allah pasti akan mengganti apa pun yang kamu infakkan.
- Hadits Nabi SAW: "Sedekah tidak akan mengurangi harta".
5. Skala Prioritas dalam Memberi
Dermawan yang paling utama dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga.
-
Referensi: * Hadits Nabi SAW: Dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang diberikan kepada istri/keluarga.
- Surah At-Talaq ayat 7: Memberi nafkah sesuai dengan kelapangan yang Allah berikan.
Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari:
-
Latihan "Rem" Kesenangan: Belajar membatasi hal-hal yang disukai meskipun halal (seperti makanan atau waktu layar/screen time) agar tidak menjadi candu yang melalaikan ibadah.
-
Lawan Keraguan saat Bersedekah: Jika muncul rasa sayang pada uang saat ingin memberi, sadari bahwa itu adalah bisikan nafsu. Langsung eksekusi pemberian tersebut tanpa banyak berpikir.
-
Prioritaskan Nafkah Keluarga dengan Bahagia: Berikan nafkah kepada istri dan anak dengan wajah yang ceria dan lapang hati, bukan sebagai beban, karena itu adalah sedekah yang paling besar pahalanya.
-
Menjaga Citra Penuntut Ilmu: Jika kita mengaku belajar agama (hijrah), tunjukkan dengan tangan yang ringan membantu sesama (royal/dermawan), bukan justru menjadi benalu atau pelit.
-
Berbagi Ilmu & Keahlian: Jangan pelit membagikan resep, tips bisnis, atau ilmu kepada orang lain. Yakinlah bahwa rezeki kita sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar hanya karena orang lain tahu rahasia sukses kita.