Mahluk Perasa
Meta Data Kajian
- Pemateri: Ustadz Dr. Zein Permana
- Materi: Mahluk Perasa
- Sub Materi: Good Way Saturday
- Tanggal: 2026-03-07T00:00:00.000+07:00
- Link Kajian:
=this.link_kajian
Catatan Kajian
Banyak keputusan besar tidak lahir dari logika
- Contoh;
- Orang jatuh cinta, tanpa analisa.
- Nabi ﷺ menjaga agar kita memilih pasangan dari 4 hal; agama, kecantikan, harta, nasab.
- Kisah Nabi Yakub dan Rachel yang melahirkan Nabi Yusuf.
- Orang marah, tanpa kalkulasi.
- Orang tersinggung, tanpa logika.
- Orang bertahan dalam hubungan, tanpa rasional.
- Orang jatuh cinta, tanpa analisa.
- Daniel Kahneman, seorang psikolog yahudi, dapet nobel ekonomi dengan gagasan yang sama.
- Thinking fast and slow
- Customer Behavior
Perasaan (seringkali) lebih kuat dari logika
- Karena manusia bukan hanya mahluk berpikir tapi juga perasa.
- Perasaan sering lebih kuat dari logika dalam memutuskan walaupun diberikan fakta dan data. Lihat dalam kasus politik ataupun iklan yang mengedepankan perasaan.
- Oleh karena itu Nabi ﷺ pun diperintahkan dakwah dengan pendekatan perasaan
- Perasaan menunjukkan rasa kemanusiaan
- “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
- Ustadz berpendapat qalb yg dimaksud adalah otak sebagai pusat kendali perasaan.
Kesedihan bukan tanda lemahnya iman
- Saat Nabi Yakub kehilangan Nabi Yusuf, ia menangis sampai matanya memutih (tidak bisa melihat kebahagiaan lain; psikologis; changes blindes)
- Kesedihan bukan berarti lemah melainkan tanda hati yang hidup.
- Menghukum diri saat berdo'a kepada Allah ﷻ , boleh banget nangis
- Saat Nabi ﷺ kehilangan anaknya juga beliau berkata;
- "Mata ini menangis dan hati bersedih ... "
- Beliau tidak denial, melainkan mengelola rasa.
- Rasa kongruen dengan perilaku kita
- Jangan menyangkal perasaan, melainkan ceritakan kepada Allah ﷻ dan jika perlu kepada yang ahli
Perasaan itu sinyal, bukan musuh
- Banyak yang bermusuhan dengan emosinya, padahal emosi adalah pesan dari dalam diri
- Perasaan yang muncul seringkali tidak bisa dikontrol, tapi sikap setelah nya sangat bisa dikontrol
- Nabi ﷺ pun benci kepada orang yang membunuh.
- Bukan membunuh perasaan, melainkan menyiapkan sikap dari alarm yang muncu.
- Sinyal apa, yaitu dasar
- Sedih, kesenjangan antara keinginan dan kenyataan
- Takut, pikiran berlebihan tentang masa depan
- Marah, perlakuan yang tidak adil dan tidak setara
- Jijik, nilai diri yang terekspresi ketika melihat hal kebalikan
- Senang, ambang batas rasa - sejati vs ilusi
- Pendekatan untuk solusinya
- Sedih -> lagi ingin apa? ayo naikin kenyataan. Dan mereka akan rapuh dan cenderung
- Takut -> ajak here and now, posisi terlalu jauh di masa depan, sekarang bisa persiapan apa?
- Marah -> kamu maunya diperlakukan gimana? adil menurut kamu gimana?
- Jijik -> menunjukkan nilai diri kita. maka untuk menunjukkan value jujurlah menunjukkan ketidaksukaan kita
- Senang ->
- Senang sejati; kita melakukan usaha menghasilkan karya; mendapat apresiasi dari hasil memberi pengajaran / kajian; Doing something atau making contribution
- Senang ilusi; kita tidak melakukan usaha tapi kita senang / ketawa; sering diiringi kehampaan;
- Semua sinyal perasaan membuka peluang untuk kita tumbuh
- Emosi kita sehari-hari pun kompleks tidak hanya 1 perasaan dasar
Kesalahan besar manusia
- Menyangkal perasaan; "Ah itu cuma perasaan". Bukti kita mencintai seseorang adalah kita punya program untuk menumbuhkannya dan terlihat dengan membandingkan apa yang diberikan dari orang tuanya; misalnya menyekolahkan S-2, membuat glowing. Jangan treatment apa adanya, ulik perasaannya.
- Dikuasai perasaan; marah-> bicara kasar
- Tidak memahami perasaan; banyak orang merasa sesuatu tapi tidak tahu apa yang ia rasakan
Islam memetakan perasaan
- Islam mengajarkan kita untuk merawat perasaan dengan Iman
- Qalbu jadi kata kunci
Macam kondisi Qalbu
-
Qalbun Salim; hati yang sehat
- Qalbun Maridh; hati yang sakit
- kadang ingin taat tapi juga kuat dorongan maksiat
- kadang lembut tapi keras
- Qalbun Mayyit; hati yang mati
- Cirinya; tidak merasa bersalah, tidak tersentuh nasihat, tidak bersyukur, tidak peduli dengan kebenaran.
- Seperti saat Nabi Sueb di Madyan
- Cirinya; tidak merasa bersalah, tidak tersentuh nasihat, tidak bersyukur, tidak peduli dengan kebenaran.