Menyikapi ujian sakit & Pencarian Jodoh
Meta Data Kajian
- Pemateri: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc
- Materi: Riyadush Shalihin
- Sub Materi: BAB 50 | Al-Khauf (rasa takut kepada Allah)
- Tanggal: 2025-12-13T00:00:00.000+07:00
- Link Kajian: https://www.youtube.com/watch?v=AY4xzyDidN0
Catatan Kajian
1. Menyikapi Ibu yang Didiagnosis Kanker Stadium 3 [15:22]
Pertanyaan: Bagaimana menyikapi hati yang hancur dan sedih melihat ibu didiagnosis kanker stadium 3 dan harus menjalani kemoterapi? Mohon doa dan nasihat agar hati tetap tegar.
Nasihat Ustadz:
-
Terima Takdir: Ucapkan Qadarallah wa ma sya'a fa'al (Allah sudah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi) dan Alhamdulillah 'ala kulli hal (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan), karena di balik kesulitan pasti ada hikmah.
-
Husnudzan kepada Allah: Yakin bahwa yang mentakdirkan adalah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menguji hamba yang Dia cintai: "Innallaha idza ahabba qauman ibtalāhum" (Sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka) [18:13].
-
Sakit Menggugurkan Dosa: Jadikan musibah ini sebagai anugerah dan momentum untuk meningkatkan iman dan takwa. Sakit adalah penggugur dosa.
-
Peran Anak: Jangan berprasangka buruk (su'udzon) dan memprediksi penderitaan berlebihan. Minta pertolongan kepada Allah untuk meredam rasa sakit tersebut. Tingkatkan birrul walidain (berbakti) dengan sering menjenguk dan mendoakan ibu [22:18].
2. Sulit Khusyuk dan Beribadah Saat Diuji Sakit Kulit [24:14]
Pertanyaan: Saya sedang diuji sakit kulit yang sering kambuh. Ketika kambuh, saya sulit khusyuk dalam ibadah, sering meninggalkan amalan sunah, dan merasa kurang produktif, padahal seharusnya lebih semangat mendekat kepada Allah. Bagaimana saya menyikapi ini?
Nasihat Ustadz:
-
Minta Pertolongan: Minta pertolongan kepada Allah, tidak hanya untuk sembuh, tetapi juga agar diberi kemampuan menghadapi ujian dengan cara yang benar.
-
Pahala Amalan Rutin Tetap Dicatat: Ingat sabda Nabi ﷺ (HR. Bukhari): Jika seorang hamba sakit atau safar, maka pahala amalan yang biasa ia lakukan ketika sehat tetap akan dicatat baginya [27:04]. Kekurangan ibadah saat sakit akan ditutup dengan pahala rutin yang tetap mengalir.
-
Pintu Sabar Terbuka Lebar: Sabar adalah ibadah yang sangat spektakuler. Allah memberi ganjaran pahala yang tidak terbatas (innama yuwaffas shābirūna ajrahum bighairi hisāb) [28:44]. Jadi, saat sakit, pintu ibadah sabar dan pengguguran dosa terbuka sangat lebar.
3. Memperjuangkan Calon Pasangan yang Baik Agamanya [33:38]
#MencariJodoh
Pertanyaan: Saya tertarik pada laki-laki yang baik agamanya selama 9 tahun. Situasi kini membuat saya berada dalam "radar"nya. Saya ragu antara tetap memperjuangkan dengan cara yang halal atau mundur karena khawatir perasaan berlebihan. Saya tidak bisa menawarkan diri langsung karena itu bukan kebiasaan keluarga.
Nasihat Ustadz:
-
Berinteraksi Sesuai Syariat: Tetap berinteraksi sesuai kaidah: tidak khalwat (berdua-duaan), menjaga hijab (pakaian), menjaga intonasi suara, dan sesuai kebutuhan (jika butuh 5 menit, jangan 6 menit) [35:31].
-
Diperbolehkan Mengajukan Diri: Diperbolehkan bagi wanita untuk maju (mengajukan diri) kepada laki-laki saleh, selama aman dari fitnah. Ustadz mencontohkan kisah seorang wanita yang mendatangi Nabi ﷺ dan menawarkan dirinya untuk dinikahi [38:16]. Bahkan, putri Anas bin Malik yang menganggap perbuatan itu "tidak tahu malu" langsung dikoreksi oleh Anas: "Dia lebih baik darimu." [39:10]
-
Konsisten dalam Perubahan: Alasan bahwa "itu bukan kebiasaan keluarga" tidak bisa dijadikan penghalang, apalagi dalam masalah syariat. Jika kita sudah mengamalkan banyak hal baru yang tidak sesuai kebiasaan keluarga (seperti shalat Duha, puasa sunah), mengapa hal ini dijadikan pengecualian? [41:10]
-
Jangan Sia-siakan Peluang: Di zaman ini, mencari laki-laki yang saleh itu sangat sulit. Jika Allah telah membukakan peluang di hadapan Anda, gunakan cara yang halal untuk memperjuangkannya [46:44]. Karakter seseorang sudah cukup terbaca dalam 9 tahun.
4. Menyikapi Pengakuan Calon Suami yang Pernah Berzina [48:44]
#MencariJodoh
Pertanyaan: Calon suami saya mengakui pernah berhubungan badan dengan mantan pacarnya, setelah mantan pacarnya menghubunginya. Saya goyah, terluka, dan ragu untuk melanjutkan, meskipun ia mengaku menyesal. Apakah ini ujian yang harus saya kuatkan atau petunjuk untuk mundur?
Nasihat Ustadz:
-
Duduk Perkara Mantan Pacar: Ustadz menyarankan untuk back to basic dan menganalisa niat mantan pacar yang menceritakan hal tersebut. Apakah syariat membolehkan seseorang menampakkan dosa yang telah ditutup oleh Allah (Kullu ummati mu'āfan illal mujāhirīn—Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakkan dosanya) [51:24]? Secara umum, niat orang yang melakukan hal ini adalah niat buruk.
-
Hukum Mengorek Masa Lalu: Apa hukumnya cross check (mengkonfirmasi) ke calon pasangan tentang dosa masa lalu? Seharusnya aib masa lalu ditutup dan segera bertaubat taubatan nasuha.
-
Prioritas ke Depan: Masa lalu memang penting, tetapi parameter utama adalah kondisi calon saat ini (apakah sudah bertakwa) dan potensi ke depan [55:40].
-
Pelajaran dari Sahabat: Ingatlah bahwa sebagian sahabat dan sahabiat hidup di masa Jahiliyah yang penuh kemungkaran (termasuk zina), namun ketika mereka bertaubat taubatan nasuha, mereka menjadi orang-orang terbaik di sisi Allah. Bahkan, secara kualitas, mereka bisa jadi lebih hebat daripada orang yang track record-nya bersih [58:16].
-
Keputusan Akhir: Keputusan untuk lanjut atau mundur adalah hak Anda. Namun, Ustadz mengajak untuk berpikir jernih dan realistis, serta mencari tahu apa yang Anda cari dalam pernikahan ini, karena terkadang masalah masa lalu justru membuat seseorang menjadi lebih matang dan bijak di masa sekarang [59:16].
[