Tetaplah terkontrol dalam kegembiraan
Meta Data Kajian
- Pemateri: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc
- Materi: Tadzkiratus Sami Wal Mutakallim
- Sub Materi: BAB 50 | Al-Khauf (rasa takut kepada Allah)
- Tanggal: 2025-12-27T00:00:00.000+07:00
- Link Kajian: https://www.youtube.com/watch?v=dkafAzVBU2Q
Catatan Kajian
- Hanya dengan adab kita bisa mengetahui hakikat dari ilmu bermanfaat
- Adab kepada ilmu adalah adab kepada Allah ﷻ yang Maha Berilmu dan Memberi Ilmu
- Hanya bermodal kecerdasan tidak cukup, sebaliknya jika kita cukup saja dalam kecerdasan tetapi beradab insyaa Allah kita mendapat apa yang kita inginkan.
- Contoh dalam kelas ada yang IQ 140 tapi kaki keatas duduk di belakang dan mengupil. Pemateri pun tidak akan optimal mengajarinya.
- Ibnul Qayyim memberi keterangan, adab itu awal dari kebahagiaan dan keberuntungan.
- Salah satu adab yaitu sabar, Kita tidak bisa melarikan diri dari sabar
Sabar butuh untuk tiap kondisi
- Hidup hanya ada kondisi
- Menghadapi sesuatu yang sesuai keinginan, nafsu, ekspektasi, diharapkan
- Menghadapi sesuatu yang bukan sesuai keinginan, nafsu, ekspektasi, diharapkan
- Kondisi pertama lebih butuh untuk bersabar, karena
- Manusia cenderung lalai, bergantung, tertipu, tenggelam dalam euforia, posesif, kebablasan dalam mengungkapkan.
- Agar tidak terlalu asyik dalam meraih dan mendapatkannya, serta berlebihan dalam menikmatinya.
- Agar tidak lupa ada hak Allah ﷻ
- Banyak nikmat, banyak bersabar
Alasan #1 kondisi pertama butuh lebih sabar
- Manusia cenderung lalai, bergantung, tertipu, tenggelam dalam euforia, posesif, kebablasan dalam mengungkapkan.
- Contoh nya dalam sepak bola orang yang selebrasi berlebihan dalam euforia goal mendapatkan kartu kuning.
- Ingat bahwa Kesabaran itu pergulatan dengan hawa nafsu, saat kondisi pertama akal sehat rawan melemah
- Dalam Marotibul taqdir atau tingkatan takdir, segala sesutu dikehendaki Allah ﷻ (tidak semua yang dikehendaki diridhai)
- Tetap terkontrol dalam kegembiraan.
Alasan #2 kondisi pertama butuh lebih sabar
- Ibnul Qayyim menjelaskan, agar anda tidak terlalu sibuk dan asyik dalam meraih dan mendapatkannya, serta berlebih-lebihan dalam menikmati/menggunakan.
- Jika berlebihan maka hal tsb akan berbalik menjadi memudharatkan
- Contoh dalam makan, dr. memberi larangan memakan A,B,C karena awalnya seorang terlalu berlebihan makan A,B,C.
- Contoh dalam makan makanan favorit; mie ayam, hal tersulit adalah untuk menolak mangkok kedua :)
Alasan #3 kondisi pertama butuh lebih sabar
- Ibnul Qayyim menjelaskan, ketika kita mendapatkan apa yang kita sukai manusia suka lupa bahwa ada hak Allah ﷻ. Maka kita perlu bersabar untuk menunaikan hak Allah ﷻ dan jangan sampai disia-siakan.
- Contoh shalat dalam akad dan walimah
- Semakin besar nikmat, semakin besar hak Allah ﷻ yang harus ditunaikan.
- Menurut keterangan ulama ilmu bisa hilang dari hati manusia karena ketamakan dari nikmat yang diberi Allah ﷻ dan lupa atas hak Allah ﷻ .
Hak Allah ﷻ di setiap nikmat apa saja
- Hak Allah ﷻ secara umum adalah kita beribadah kepada-Nya. Dari Syeikhul Islam ibadah itu ismun jamiun yaitu kata universal yang mencakup apa yang Allah ﷻ cintai baik perbuatan, ucapan, maupun batin.
- Adapun untuk hak Allah ﷻ dalam nikmat kita membeli rumah baru diantaranya
- Tidak meletakkan sesuatu yang tidak Allah ﷻ ridhai di sana
- Tidak melakukan maksiat
- Tidak memarahi suami/istri di sana
- Menggunakannya dalam ketaatan, Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baiknya shalat adalah di rumah (kecuali shalat fardhu bagi laki-laki)
- Membaca Al-Quran, Nabi ﷺ bersabda bahwa syaitan akan lari dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah
Tingkatan takdir
TINGKATAN-TINGKATAN QADAR DAN RUKUN-RUKUNNYA [1]
Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:
- Al-‘Ilm (ilmu).
- Al-Kitaabah (pencatatan).
- Al-Masyii-ah (kehendak).
- Al-Khalq (penciptaan).
Referensi : https://almanhaj.or.id/2477-tingkatan-qadar-al-ilmu-al-kitaabah.html